Tiga hari kedepan saya akan sibuk dikejar deadline. Wawancara 22 responden untuk penelitian. Kalau kata salah satu kawan: program paling ndakik-ndakik seKKN. Tapi yah memang demikian, mengumpulkan data sosial ekonomi 150 kepala keluarga, membuat analisis, dan memaparkannya kepada pihak desa, bisa disebut program paling idealis. Ketika sebagian peserta KKN memilih membuat sosialisasi, kami (kawan saya … Lanjutkan membaca Hari 29 : Hal Tersulitnya Adalah Memulai
Hari 28: Kenapa Manusia Punya Dua Telinga?
Sebuah pertanyaan klasik. Jawabannya tergantung dari sudut mana kita memandang. Bisa berupa retorika pun rentetan fakta ilmiah. Kalau saya yang ditanya mungkin akan memilih diam, tidak tahu kenapa Tuhan menciptakan manusia dengan dua telinga. Katanya sih, katanya lho ya supaya banyak mendengar. Mendengar dari berbagai sisi, kanan dan kiri. Meski tidak tahu benar atau salah, … Lanjutkan membaca Hari 28: Kenapa Manusia Punya Dua Telinga?
Hari 27: Menjadi Egois
e.go.is (n) orang yang selalu mementingkan diri sendiri Ah, akhirnya saya belajar untuk tidak peduli kepada orang lain. Egois. Sebut saja demikian. Pagi tadi saya kabur. Pergi dari pondokan naik sepeda. Sendirian tentu saja. Awalnya hanya ingin mencoba sepeda, kebetulan ada teman yang bawa sepeda ke pondokan. Lumayan ternyata, nyaman juga ketika digunakan pada jalan … Lanjutkan membaca Hari 27: Menjadi Egois
Hari 26: Tidak Ada Dua Cinta dalam Satu Hati
Begitu kata seorang kawan siang tadi. Tidak, kami tidak sedang membicarakan cinta yang itu, tapi cinta lain yang seharusnya lebih didahulukan. Sepertinya memang demikian, bagaimana mungkin hati manusia yang hanya ada satu ini diberikan pada dua hal yang berlainan. Berbagi hati? Mungkin bisa. Tapi apakah porsinya dapat sama? Ralat. Bukan sama, tapi adil. Karena adil … Lanjutkan membaca Hari 26: Tidak Ada Dua Cinta dalam Satu Hati
Hari 25 : Terlanjur Nyaman
Dua hari ini kami tinggal berlima saja di pondokan. Empat orang lainnya sedang turun (istilah yang kami gunakan untuk mengganti kata pulang). Senang tapi juga merasa sepi. Senang karena memang saya nyaman berada pada kelompok kecil yang memungkinkan adanya interaksi lebih dekat satu sama lain. Jujur saja, sembilan orang dalam satu pondokan itu terlalu banyak … Lanjutkan membaca Hari 25 : Terlanjur Nyaman
Hari 22: Memecahkan Celengan Rindu
Pagi ini saya bolos KKN. Sengaja untuk menjadi moderator dalam talkshow gizi tentang membawa bekal ke sekolah dengan narasumber dosen favorit saya, Bu Fasty Arum Utami. Memang sudah direncanakan, supaya dapat alasan pulang ke rumah. Tepat 20 hari setelah hari penerjunan. Kemarin magrib saya sampai di rumah, untuk pertama kalinya motoran sendiri sekitar 2,5 jam … Lanjutkan membaca Hari 22: Memecahkan Celengan Rindu
Perihal Waktu
Waktu itu gak usah dibahas, dia bakal berlalu dengan sendirinya kok. Beda dengan rasa, mau dibahas atau tidak susah berlalunya
Hari 11 : Alasan Belajar Leadership
Entah kenapa saya baru menyadari peran 'ibu' (istri) seorang tokoh masyarakat ketika KKN ini. Istrinya Pak Dukuh otomatis jadi Ketua Penggerak PKK Pedukuhan, demikian juga istrinya Pak Kades di tingkat Desa. Hmm.. Sebuah kolaborasi apik yang entah kenapa tidak pernah saya sadari selama 20 tahun hidup saya. Ikut nimbrung dalam kegiatan PKK membuat saya sedikit … Lanjutkan membaca Hari 11 : Alasan Belajar Leadership
Hari 9: Jatuh Hati
Hari ini akhirnya kami datang ke Puskesmas. Sebagai mahasiswi kluster kesehatan, mendatangi Puskesmas di awal masa KKN itu hukumnya sunah muakad. Kalau kata Kormater saya sih karena sedang berada di daerah kekuasaannya Puskesmas. Meski agak berlebihan tapi benar juga sih. Sebagian besar program yang akan kami lakukan pasti seputar kesehatan dan Puskesmas merupakan pihak yang … Lanjutkan membaca Hari 9: Jatuh Hati
Hari 8: Perkenalan dan Penerimaan
Beberapa hari ini agenda kami adalah perkenalan dan mencari data. Terdengar sederhana saja. Mengenalkan diri pada lingkungan baru itu rasanya sungguh nano-nano sekali, apalagi ketika harus menerka tentang bagaimana penerimaan orang lain. Sepagian tadi kami, maraton Posyandu. Berpindah dari Posyandu ke Posyandu lainnya. Hanya dua sih sebenernya, tapi lumayan bisa membuat kami terburu-buru, karena waktu … Lanjutkan membaca Hari 8: Perkenalan dan Penerimaan