World View

Beberapa waktu lalu saya dapat tawaran untuk membantu editing tim media salah satu organisasi eksternal yang saya ikuti. Tidak mungkin menolak, bukan? Jadilah saya banyak membaca tulisan dari teman-teman baik sebelum ataupun setelah dipublikasikan di website.

Ada satu hal yang baru saya sadari, tulisan mereka sangat jauh berbeda dengan tulisan yang pernah saya buat untuk website yang sama. Banyak sekali perbedaan yang saya rasakan, mulai dari gaya bahasa yang dipakai hingga cara penuturannya. Saya paham bahwa setiap penulis memiliki ciri khasnya masing-masing, tapi meski begitu saya bisa melihat kesamaan diantara tulisan mereka. Kalau boleh saya bilang, tulisan khas para aktivis dakwah.

Lalu saya teringat tentang world view—pandangan dunia yang pernah disinggung salah seorang kawan duluu sekaliii. Tentang bagaimana seseorang melihat dunia melalui sudut pandang yang berbeda. Saya sedikit ingat kalau tidak salah, dia—kawan saya, pernah mengatakan kalau tulisan seseorang dapat dipengaruhi oleh cara pandangannya. Kawan saya itu mengambil contoh seorang kawan yang lain, tentang bagaimana tulisan-tulisannya yang meski awalnya tidak berkaitan dengan Islam tapi akhirnya akan berujung pada sesuatu yang islami. Katanya, karena dia tumbuh dalam lingkungan yang kalau boleh saya katakan sangat islami. Bukan hanya lingkungan rumah, sekolah, teman, tapi juga apa yang ia baca seputar keislaman. Ketika itu saya tidak membantah pun tidak lantas menyetujui, selain karena memang belum banyak membaca tulisan kawan yang ia ceritakan itu saya juga baru pertama kali diajak ngobrol tentang istilah world view yang sebelumnya hanya pernah saya dengar sekilas tanpa ingin tahu lebih lanjut.

Saya juga flashback perkataan Om Sabrang, di Kampung Buku Jogja #5

Menulis adalah suatu kondisi psikologis dimana anda mengekspose diri anda

—Om Sabrang

Jadi, apa yang dibaca, didengar, dan dialami akan muncul ketika seseorang menulis. Menunjukkan kepada ‘dunia’ ini lho saya.

Akhirnya saya berubah pikiran, awalnya berencana menulis satu dua artikel untuk nitip publikasi di website organisasi itu tapi tidak jadi. Salah satunya karena merasa, tulisan saya terlalu jauh berbeda terlebih dengan sudut pandang yang saya gunakan, (menurut saya) tidak sesuai disandingkan dengan tulisan-tulisan lain yang senanda. Bahkan saya sempat berpikir untuk berhenti menulis saja hingga tulisan ini mandeg lebih dari satu pekn. Tapi kemudian saya berubah pikiran, kewarasan saya lebih penting daripada sekadar memikirkan bagaimana orang lain ‘melihat’ tulisan saya.