Kategori: Jurnal
Emang gak capek terus-terusan lari? Mau sampai kapan?
Mbah Sujiwo Tejo pernah bilang—atau nulis ya, "Jangan pergi agar dicari, jangan sengaja lari agar dikejar" Sampai sekarang saya masih merasa cukup sering pergi atau lari barang sejenak dari banyak hal. Saya biasa menyebutnya 'kabur'. As simple as tidak membuka aplikasi WhatsApp selama lebih dari 24 jam. Itu menjadi salah satu alasan saya tidak mematikan … Lanjutkan membaca Emang gak capek terus-terusan lari? Mau sampai kapan?
(Sebuah Surat)
Teruntuk Bintang itu Dalam cerita manapun Maaf, ternyata masih saja ada surat yang ingin kukirimkan padamu. Padahal dulu sudah mengatakan bahwa tidak akan berkirim surat lagi. Ada satu hal yang ingin kutanyakan padamu. Bukan, ini bukan tentang rasamu. Lagipula aku masih belum ingin tahu tentang bagaimana rasamu. Kamu tahu, kurasa pada akhirnya aku hanya menjadi … Lanjutkan membaca (Sebuah Surat)
Masih ingat dongeng tentang bintang dan planet kecil?
Ah, sudah lama ya tidak bercerita tentang mereka. Beberapa malam terakhir, langit terlihat bagus dari tempat saya melihat. Ada banyak bintang. Mengingatkan pada dongeng yang pernah saya ceritakan. Saya selalu ingin membuat akhir cerita bahagia untuk dongeng itu. Pun, setelah seseorang menyadarkan saya bahwa definisi bahagia tidak hanya terbatas pada 'hidup bersama selamanya'. Masih ada … Lanjutkan membaca Masih ingat dongeng tentang bintang dan planet kecil?
Menemukan ‘Timun Emas’
Sepagian tadi saya ikut ibuk ke kebon. Bukan, ini bukan kebun atau pekarangan di samping rumah melainkan sebuah tanah kosong yang sudah lebih dari setahun tidak dijamah. Di bawah rimbun pohon bambu, saya menemukan buah berwarna hijau. Cukup besar, panjangnya sekitar 20-30 cm. Bligo, begitu jawab ibuk ketika saya bertanya. Biasanya untuk sayur, lanjutnya. Melihat … Lanjutkan membaca Menemukan ‘Timun Emas’
Semacam dejavu Cara yang sama, alasan yang sama Tentang sebab, masih coba dicari Tentu bukan tanpa akibat, mengatakan yang demikian Seorang kawan menyebutnya: agak keterlaluan Menyelami kedalaman hati, ternyata dasar itu belum tergapai Ada banyak luka di sana Luka yang ternyata mengalirkan ketakutan begitu derasnya Namun, bukankah memang demkian adanya? Maaf
Segelas Kopi
Malam tadi, saya iseng membuat segelas kopi nescafe classic: 3/4 sendok kopi ditambah 1 sendok gula. Padahal tiga jam sebelumnya mengeluh sepertinya asam lambung saya naik. Alhasil saya tidak tidur semalaman. Padahal biasanya mau minum kopi atau tidak tetap saja ngantuk dan bakalan tidur juga. Apalagi saya bukan tipe nokturnal, jam 10 lebih juga sudah … Lanjutkan membaca Segelas Kopi
27 Mei, Jogja 14 Tahun Lalu
Ah, pantas saja pagi tadi ketika melihat kalender di layar ponsel saya merasa seperti ada suatu peristiwa di tanggal 27 Mei tapi entah apa. Lalu barusan menemukan artikel tentang Jogja 14 tahun lalu, mau tak mau memori itu tergulir kembali Untuk pertama kalinya saya merasakan yang disebut dengan gempa bumi. Gempa bumi yang membawa rangkaian … Lanjutkan membaca 27 Mei, Jogja 14 Tahun Lalu
Perayaan~
Pagi ini melihat statistik di WordPress membuat saya tersenyum. Ternyata bisa juga ya mencapai 1000 pengunjung, setelah lebih dari satu tahun—satu tahun dua bulan, pasca migrasi ke WordPress. Saya pun mengingat kembali perjalanan planet katai. Berawal dari blogger, setelah sekian tahun menghapus blog, saya memberanikan diri kembali bercerita lewat tulisan di blog. Kemudian tergoda untuk … Lanjutkan membaca Perayaan~
Jatuh Hati pada Tulisan
Pernah gak ngerasa suka banget sama tulisan sendiri? Saya sedang mengalaminya, jatuh hati tapi pada tulisan sendiri. Normal gak sih? Wqwq Ini nih, gak tau kenapa rasanya sukaa ajaa sama tulisan yang satu ini: https://milenialis.id/memaknai-kesetaraan-gender-pondasi-awal-membangun-kesetaraan-gender/ Gimana menurutmu?
