Salah satu berkah Idulfitri bagi saya adalah waktu libur yang lebih lama: total 11 hari, termasuk hari Sabtu dan Ahad, sejak tanggal 13 sampai 23 Mei. Awalnya tentu senang, mengingat beberapa hari menjelang tanggal 1 Syawal saya lebih sering sampai di rumah menjelang Isya, tapi lama kelamaan merasa bosan juga di rumah. Bisa dibilang hari libur saya terbagi menjadi tiga: hari raya (tanggal 1-2 Syawal), berenang-senang atau me-time (bersepeda dan maraton drama korea: River Where The Moon Rise, besok deh kapan-kapan saya cerita tentang beberapa drama korea yang sudah pernah saya tonton ehehe), dan tentu saja belajar! Dua lainnya nampaknya biasa saja, yah sesuatu hal yang sudah sewajarnya dilakukan orang ketika libur: melakukan hal yang disukai, tapi seringkali belajar bukan menjadi pilihan untuk dilakukan ketika liburan.
Mungkin karena saya sudah saking bingungnya hendak melakukan kegiatan apa, jadilah saya memilih belajar untuk menghabiskan waktu liburan saya dua hari ini. Beruntung beberapa bulan lalu saya menemukan dan mengikuti akun Humanitarian Leadership Academy di LinkedIn. Dari akun itu saya tahu platform belajar daring dengan berbagai topik yang berkaitan dengan kemanusiaan (humanitarian), namanya kaya (huruf kecil semua). Awalnya saya hanya coba-coba mendaftar dan enroll pada course Project Management yang tersedia gratis. Awalnya saya pikir tidak akan jauh berbeda dengan Udemy atau edX yang meskipun dapat diakses secara free namun tetap harus membayar untuk mendapatkan sertifikat. Ketika itu saya pikir ya sudahlah, setidaknya bisa dapat insight baru sekaligus belajar Bahasa Inggris. Tapi, sungguh melebihi ekspektasi saya terhadap kelas online gratis!

Menurut saya dari segi materi cukup lengkap untuk massive open online course (MOOC) gratis yang dapat diakses oleh siapa saja (termasuk orang awam yang tertarik untuk belajar tentang kemanusiaan). Mungkin karena penyedia course yang berasal dari berbagai organisasi kemanusiaan), sehingga bisa saling melengkapi. Beberapa course bahkan menyediakan self-assessment untuk mengetahui pemahaman terhadap materi. Selain itu modul yang disajikan juga menarik dan interaktif. Tidak kalah penting: semuanya menyediakan sertifikat digital! Meskipun ya tidak tidak penting-penting amat sih, tapi lumayanlah sebagai koleksi. Setidaknya besok-besok saya bisa sedikit percaya diri mencantumkan skill di profil LinkedIn, ehehe.

Dua hari ini saya berhasil menyelesaikan satu topik mengenai Monitoring, Evaluation, Accountability, and Learning (MEAL) yang terdiri atas delapan modul. Menariknya, saya tidak dapat certificate of completion seperti course yang saya ambil sebelumnya, melainkan badge digital yang dapat ditampilkan pada platform Hpass sebagai tanda telah menyelesaikan suatu course. Meskipun HPass dari Humanitarian Leadership Academy, namun tidak semua online course di kaya akan mendapatkan digital badge. Jadilah selama dua hari ini saya berhasil mengumpulkan total sembilan digital badge: delapan ‘small’ badges dan satu milestone badge. Seru sih, bisa jadi motivasi tambahan untuk menyelesaikan course, ehehe.

Terakhir, bagi yang tertarik serta ingin belajar hal dasar mengenai kemanusiaan dalam kondisi gawat darurat, project management, maupun leadership, platform ini recommended banget. Beberapa course juga menyediakan sumber referensi pendukung dari berbagai website (salah satunya USAID Learning) untuk menambah wawasan mengenai topik tertentu. Satu lagi, ada layanan bantuan 24 jam bagi yang mungkin mengalami kesulitan dalam mengakses course, tapi saya belum pernah mencobanya sih. Ehehe
Masih ada sisa libur dua hari, mau belar tentang apa besok?