Sekelebat memori datang silih berganti. Aku paham, masing-masing dari kita punya cara berbeda untuk merawat kenangan. Aku memilih menyimpannya dalam bait aksara dan menitipkan sebagian lainnya pada bintang di angkasa. Menenggok langit, bergumpal awan berarak. Dalam hati aku menertawakan diri, bahkan langit pun seolah tidak mengizinkanku untuk kembali mengingat tentangmu. Bintang-bintang itu, mungkin kamu tidak pernah tahu bahwa aku selalu mengingatmu ketika melihat salah satu dari ribuan kerlip itu.
Aku mulai bertanya-tanya, apakah rindu itu nyata? Ataukah ia hanya manifestasi dari kenangan yang masih tersimpan dalam angan.