Sepagian tadi kami menebag pohon mangga di pekarangan. Ibuk sudah berencana menebangnya sejak lama sebenarnya, hanya saja saya yang enggak ngebolehin. Setelah sekian lama, kebetulan bapak ada rencana untuk membongkar garasi, jadilah pohon itu ditebang pagi tadi: ketika saya masih sibuk ngerjain tugas resume. Selesai mengumpulkan tugas, tentu saya harus bantu memotong daun dan rantingnya. … Lanjutkan membaca Menebang Pohon
[Sebuah Surat]
Teruntuk bintang itu Di langit manapun berada Halo(lagi)! Ini kali ketiga aku berkirim surat padamu, semoga juga menjadi kali terakhir. Tentu bukan tanpa alasan aku berkirim surat ini padamu—meski entah kapan surat ini akan sampai padamu, ini juga bukan pertanyaan tentang kabar yang sudah lama tidak kita tukar lewat cerita. Kamu tahu? Dulu, aku pernah … Lanjutkan membaca [Sebuah Surat]
Until Tomorrow
Beberapa waktu lalu jagad instagram dipenuhi oleh unggahan foto pose memalukan dengan caption "until tomorrow". Konon katanya itu adalah sebuah challenge dimana seseorang yang menyukai (double tap) pada foto tersebut akan mendapat 'hukuman' untuk melakukan hal yang sama yakni mengunggah foto sendiri dengan pose memalukan. Bagus sih, jadinya orang-orang dipaksa mikir kapan harus menyukai dan … Lanjutkan membaca Until Tomorrow
ber.ja.rak
Lampu Hijau
Seorang kawan pernah bilang, "Katanya kalau dapat lampu lalu lintas berwarna hijau akan dapat lampu hijau juga di lampu lalu lintas selanjutnya" Ketika itu saya antara percaya dan tidak percaya. Hingga beberapa waktu lalu ketika pulang mengerjakan tugas kelompok, hampir di semua lampu lalu lintas saya kebagian lampu hijau. Mungkin hanya 5 dari belasan persimpangan … Lanjutkan membaca Lampu Hijau
[Sebuah Surat]
Teruntuk bintang itu Di sisi lain langit Jogja Sekali lagi aku mengirimkan sebuah surat untukmu. Sebenarnya barusan aku berpikir, sepertinya akan lebih menyenangkan jika bisa berbincang secara langsung. Namun, jarak telah menjadi suatu hal yang hakiki di antara kita, hingga pada akhirnya aku tiba pada satu kesimpulan tentang ruang sela yang mungkin akan selamanya mengangga. … Lanjutkan membaca [Sebuah Surat]
Tidur di Jalan (2)
Siang tadi langit perpusat mendung ketika saya keluar dari kantong parkir. Jangan hujan dulu, begitu rapal saya sepanjang jalan. Keluar dari kota, gerimis menyapa lalu menderas meski langit masih cukup terang. Lalu saya baru sadar kalau perpaduan antara asapal basah dan terik matahari bisa membuat udara sekitar terasa tidak nyaman. Setengah perjalanan kantuk menyerang, padahal … Lanjutkan membaca Tidur di Jalan (2)
Sudah larut, tidurlah Lanjut lagi besok
“Mbak, Cita-citanya Apa?”
Malam ini, entah mengapa saya tiba-tiba teringat sebuah pertanyaan yang dilontarkan salah seorang peserta pelatihan kader tingkat II beberapa waktu lalu. Ketika itu kami—saya dan para alumni pimpinan daerah, dikerjai (dalam tanda kutip) oleh panitia, mendadak diminta sharing pengalaman di organisasi kepada para peserta. Hal pertama yang dilakukan tentu adalah perkenalan, nama, alamat, jabatan(?), dan … Lanjutkan membaca “Mbak, Cita-citanya Apa?”
Kamu Pernah Capek Gak Sih?
Satu dari sekian banyak pertanyaan yang ingin kutanyakan kepada ia yang tengah memandang langit dari sisi lain bumi Indonesia