Pagi tadi saya ada kelas mata kuliah pilihan: Program Makanan pada Kelompok Risiko. Mahasiswanya hanya 14 orang, bahkan tidak ada setengah dari jumlah mahasiswa yang mengambil mata kuliah pilihan satunya. Beruntung saya tidak menyukai kuliner, sehingga mau tidak mau saya harus memilih mata kuliah ini. Di awal, pada saat kuliah pengantar saya mendapat kejutan: materinya … Lanjutkan membaca Permasalahan yang Rumit
Proyek Buku (Elektronik)
Pagi ini saya sedikit berbenah di planet kecil ini. Niat awalnya hanya ingin mengambil beberapa tulisan untuk dipindahkan ke media yang lain. Mungkin media cetak atau tetap elektronik hanya saja dalam bentuk yang lebih mudah dinikmati sebagai satu kesatuan cerita. Tapi ternyata seperti ketika berbelanja, ingin ini-itu. Jadilah saya sibuk berbenah. Pertama mencari tema baru, … Lanjutkan membaca Proyek Buku (Elektronik)
Tidur Larut dan Hati yang Belum Bisa Berpaling
Salah satu kebiasaan selama KKN yang masih membekas dan sepertinya akan bermanfaat adalah tidur larut malam dan bangun pagi. Ini sudah masuk pekan kedua pasca KKN dan saya masih betah menahan kantuk hingga lepas pukul 11 malam, kecuali kalau lagi di rumah. Meski siang harinya harus membayar hutang jam tidur, tapi setidaknya saya bisa sedikit … Lanjutkan membaca Tidur Larut dan Hati yang Belum Bisa Berpaling
Mencuri Dengar
Pagi tadi, sejak kemarin sebenarnya, langit di atas rumah mendung. Saya yang tadinya akan kuliah jam 12.30 lalu berubah jadi hanya jam 14.30, menjadi semakin malas untuk menempuh perjalanan 75 menit untuk kuliah 100 menit. Belum lagi ada kemungkinan kehujanan di jalan. "Mbak, jas hujan" tumben adik saya peduli sampai mengingatkan membawa jas hujan. Selanjutnya … Lanjutkan membaca Mencuri Dengar
Level 6 : Menjelang Akhir
"Setiap orang punya kesibukan masing-masing, Tif" "Iya, saya tahu. Mana ada mahasiswa tingkat akhir yang selo?" "Cobalah dimaklumi" "Saya maklum kok" "Lalu apa masalahnya?" "Salah ya kalau saya juga ingin menggunakan alasan 'punya kesibukan lain' supaya bisa merepotkan orang lain?" "Kamu tu kenapa sih? Banyak lho berubahnya pasca KKN" "Loh, saya kan sudah pernah bilang … Lanjutkan membaca Level 6 : Menjelang Akhir
Tidur di Jalan
Kemarin saya kembali membuat rekor. Motoran dari kampus ke lokasi KKN untuk menyerahkan laporan, lalu kembali ke kos, dan langsung pulang ke rumah. Capek tentu saja. Apalagi sebelumnya saya dan kawan saya harus mengurusi laporan yang hendak dikumpulkan. Sangat sangat menguras energi. Perjalanan menuju lokasi KKN lancar, kami berhenti sekali di pom bensin untuk sholat … Lanjutkan membaca Tidur di Jalan
Kalau Ada Pejabat yang Korupsi Berarti Dulu KKNnya Tidak Serius ya(?)
Pertanyaan atau pernyataan itu tercetus dari salah seorang kawan siang tadi, ketika kami sedang makan siang menjelang sore di halam Masjid Agung Wonosari setelah menyerahkan laporan kegiatan KKN. Untuk menghemat waktu kami membagi diri, dia ke Desa dan BUMDES tempatnya KKN plus BAPPEDA dan saya ke Kecamatan dan Desa satunya. Kami bertemu kembali di kompleks … Lanjutkan membaca Kalau Ada Pejabat yang Korupsi Berarti Dulu KKNnya Tidak Serius ya(?)
Hari 49 : Mempersiapkan Perpisahan
Ini senja terakhir kami. Sesorean tadi kami bersiap. Menyambut hari esok. Hari perpisahan kami. Kalau kata seorang kawan, perayaan perpisahan. Entahlah saya suka dengan istilah itu. Mewah sekaligus terkesan sakral. Sejujurnya saya ingin mencari diksi lain. Semacam menyemai memori atau merajut kenangan mungkin. Namun, siapa yang menjamin akan ada yang merawat memori itu atau menyelesaikan … Lanjutkan membaca Hari 49 : Mempersiapkan Perpisahan
Hari 44: Waktu yang Tepat Untuk Tidak Jatuh Cinta
Menjelang hari penarikan, ada topik yang semakin sering dibahas: masalah hati. Sulit memang untuk benar-benar menghindarinya. Apalagi bagi yang tinggal di satu pondokan dengan lawan jenis. Bertemu atau setidaknya melihat sejak bangun tidur sampai tidur lagi selama lebih dari satu bulan saya pikir lebih dari cukup untuk menghadirkan rasa yang entah apa itu namanya. Siang … Lanjutkan membaca Hari 44: Waktu yang Tepat Untuk Tidak Jatuh Cinta
Hari 43 : Kali Kedua
Kali kedua saya tidak berlebaran Iduladha di rumah. Kali pertama tahun lalu, ketika itu saya mengikuti acara bakti sosial. Di Gunungkidul. Sekarang pun demikian. Tidak di rumah, tapi di Gunungkidul. Ah, jangan-jangan Gunungkidul akan menjadi tempat istimewa bagi saya untuk berlebaran di tahun-tahun selanjutnya. Dua kali berurutan, yang ketiga mungkin bisa dapat hadiah. Eh enggak … Lanjutkan membaca Hari 43 : Kali Kedua